January 16, 2021

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

AUR dari kelompok yang mengatasnamakan Front rakyat Papua tolak Otsus dalam rangka menolak rencana perpanjangan Otsus jilid II.

5 min read

Jakarta, Balapatti.com – pada hari Jumat, 8 Januari 2021 Pukul 09.30 WIT di depan Ramayana Mall Jl. Ahmad Yani Kel. Klademak Distrik Sorong Kota Sorong Prov. Papua Barat, sedang berlangsung AUR dari kelompok yang mengatasnamakan Front rakyat Papua tolak Otsus dalam rangka menolak rencana otsus jilid II, giat dipimpin oleh Damdur Dogdar (Korlap), Dhira Tapi (Wakil Korlap akai) dan Natalis Yawen (Petisi rakyat Papua Sorong Raya sebagai penangung jawab aksi) yang diikuti dengan masa.

_2 buah spanduk bertuliskan :
Tolak Otsus jilid II berikan hak me mentukan nasib sendiri sebagai solusi paling demokratis. sebagai tuntutan :
-Kami menolak dengan tegas perpanjangan perlakuan otonomi khusu jilid II dalam bentuk nama apapun do teritori west Papua dan Papua Barat.

loading...

-Menolak segala bentuk kompromi sepihak serta agenda – agenda pbahasan dan kepuatusan yang tidak melibatkan rakyat papua selaku subjek dan objek seluruh persolan di Papua.

-Segera kembalikan kepada rakyat papua untuk memilih dan memutuskan nasibnya sendiri apakah menerima otsus atau merdeka sebagai sebuah Negara.

-Kami mendukung suara 1,8 Juta rakyat Papua yang telah menandatangani petisi pada tahun 2017 yang meminta supervisi internasional dalam penentuan sendiri melaluo refrendum.

-Jika tuntutan ini tidak ditanggapi maka kami akan melakukan mogok sipil Nasional secara damai di seliruh wilayah west Papua.
_Tolak Otsus Jilid 2, Tutup semua perusahaan yang ada di tanah Papua: Gas LNG di Bintuni, Petrogas di Salawati Sorong, Kelapa Sawit di Klamono, Tolak militerisme di atas Tanah Papua.

_Pamflet :
Penganiayaan warga sipil oleh aparat kepolisian diperbatasan Sorong Selatan tahun 2020.
Penangkapan aktifis mahasiswa tahun 2020 dalam aksi menuntut pemkot sorong segera menyelesaiakan permasalahan banjir di kota sorong.
Penangkapan dan pembungkaman ruang demokrasi 11 tahanan politik papua merdeka 27 November 2019.
TNI menembak mati seorang pendeta di Intam Jaya, penembakan pendeta Yeremia Zambani dan beberapa pastor di tanah papua.

_1 Buah Megaphone.
Unsur Pam 1 SST Dalmas Polres Sorong Kota.

Pukul 09.30 WIT massa berkumpul di depan Ramayana Mall.
Pukul 09.45 WIT massa mulai melakukan Aksi.
Pukul 10.00 WIT massa bertambah menjadi 30 orang.
Pukul 10.05 WIT Apei Tarami (Anggota komunitas Kakia Abu) menyampaikan yang intinya :

Sudah banyak contoh bahwa orang Papua tidak sejahtera. Kita bicara otsus ini bicara keberpihakan di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Tapi nyatanya 20 tahun berjalan otsus tidak merasakan apapun dari otsus.

Bicara perpanjangan otsus ini harus ditanya langsung kepada orang Papua, bukan elit di jakarta. Otsus ini diberikan kepada Orang Asli Papua dan yang merasakan kita, mengapa pembahasan kelanjutan otsus harus bertanya ke Jakarta.

Pukul 10.15 WIT Deby Santoso alias Monda Fildan ( Komunitas Kaki Abu) menyampaikan orasi yang intinya :
Perusahaan perusahaan migas yang berada Papua bukan milik Indonesia, Papua hanya dijadikan lahan untuk mengeruk kekayaan alamnya saja.
Indonesia mengajarkan birokrasi yang tidak bisa ditiru masyarakat Papua bisa dilihat dari maraknya togel, miras dan penjudi lainnya.
Penangkapan para aktifis mahasiswa dalam aksi menyuarakan aspirasi masyarakat papua adalah bukti bahwa pemerintah Indonesia membungkam papua.

Pukul 10.35 WIT Penyampaian dari Herman Walilo (Sekjen KNPB Sorong) intinya sebagai berikutnya

Kami menolak dengan tegas perpanjangan Otsus jilid II yang dinilai sudah gagal, dan kami menolak segala bentuk kompromi sepihak yang memutuskan tanpa melibatkan rakyat Papua.

Kembalikan kepada rakyat papua untuk memilih dan memutuskan nasibnya sendiri, apakah menerima otsus atau merdeka sebagai sebuah Negara.

Papua hanya di jadikan lahan untuk mencari kekayaan pribadi, perusahaan yang berada di tanah papua hanya menguras kekayaan alam saja tanpa mensejahterakan rakyat papua.

Kami hanya menuntut hak berdaulat, berdiri di tanah kami sendiri dengan damai.

Apa yang kami sampaiakan adalah suara semua masyarakat papua yang ingin menentukan nasib sendiri.

Pukul 11.05 WIT Penyampaian dari Damdur Dogdar (Korlap) intinya.

Kami berbicara bukan atas dasar kebohongan, akan tetapi fakta yang sudah terajadi. banyak masyarakat papua di bunuh, diperkosa dan dianiaya.

Kita berjuang dan berdoa untuk kemerdekaan papua,perjuangan kita tidak akan sia sia, dan tuhan pasti akan bersama kita.

Banyak nya pembunuhan, pemerkosaan dan penganiayaan terhadap masyarakat papua menunjukan bahwa otsus di tanah papua benar benar gagal dan hanya merupakan kepentingan elit politik.

Buat apa ada Otsus jika Orang Papua dibunuh diperkosa dianiaya, Buat apa dana besar yang dikucurkan dari Otsus, tetapi orang asli Papua tidak merasakan dan hanya Pejabat saja yang menikmati uang itu.

Tuhan berkata agar kita bekerja dan berdoa, tetapi apa yang kita kerjakan untuk tanah Papua semua sia-sia. Otsus telah memberikan ruang bagi orang non Papua mengeruk kekayaan kita.

Pukul 11.15 WIT Orasi orasi dari masa intinya :
Kami selalu di bunuh dan dianiaya, kekayaan alam kami dikuras diambil tanpa memikirkan kesejahteraan masyarakat papua, apakah dengan keadaan seperti itu kami harus bertahan untuk bergabung dengan Indonesia.
Sampaikan kepada Presiden RI kami meminta untuk merdeka dengan damai, berdiri di atas tanah kami sendiri dan membuat demokrasi sendiri.
Papua pasti akan merdeka dalam waktu dekat maupun waktu yang panjang, kita akan terus berjuang sampai waktu itu tiba, dan Papua tidak butuh Otsus, papua hanya butuh penetuan nasibnya sendiri.
Papua sudah merdeka pada tanggal 1 desember 1963, sekarang kita hanya merebut kembali kedaulatan bangsa papua tersebut, dan semenjak itu Indonesia tidak mampu untuk mensejahterakan masyarakt Papua, maka Indonesia harus kembalikan kedaulatan Papau untuk menentukan nasib sendiri.
Kita harus bangkit dan berjuang bersama untuk melawan penjajahan ini, sudah cukup selama ini papua di tindas dan dikuras kekayaan alam nya.
Kami sampaikan kepada PBB dan Negara Indonesia tentang solusi terbaik untuk papua adalah refrendom, tidak ada solusi lain yang baik untuk masyarakat papua kecuali refrendom.

Pukul 12.05 WIT Jumpa pers massa aksi dengan insan pers kota Sorong oleh Natalis Yewen (Penanggung Jawab Aksi) yang intinya semuanya,
Kami kembali turun ke jalan untuk menolak rencana pemerintah Indonesia memperpanjang Otsus di Tanah Papua menyikapi Prolegnas di DPR RI tanggal 11 Januari 2021 yang salah satunya dibahas adalah revisi UU Otsus.

Kami dengan tegas menolak perpanjangan otsus di tanah Papua. Kami meminta kepada pemerintah untuk keberlanjutan otsus ditentukan oleh orang asli papua karena kami yang merasakan otsus.

Pengalaman kami selama otsus berjalan 19 Tahun sejak 2001 s.d sekarang bahwa kami menilai dan mengakui otsus adalah bentuk penindasan bagi rakyat papua, karena pemberdayaan dan perlindungan orang asli papua tidak ada.

Bicara perlindungan, orang papua banyak mati ditembak yang pelakunya adalah investasi dan militer di Indonesia. Hari ini di Nduga, Sorong, Manokwari, dan Timika yang pelakunya adalah Negara.

Kami kembali menegaskan menolak segala bentuk apapun keberlanjutan otsus di tanah Papua.

Pukul 12.10 WIT Aksi unjuk rasa dari kelompok Front rakyat Papua tolak Otsus dalam rangka menolak rencana otsus jilid II selesai dalam keadaan aman.

Meskipun Aksi Unjuk Rasa dari Front Rakyat Papua Tolak Otsus tidak mendapat izin dari Polres Sorong Kota, massa tetap melakukan aksi dengan penyampaian orasi dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Massa tidak jadi melakukan long march ke Kantor DPRD Kota Sorong karena anggota dewan tidak berada di tempat disebabkan dalam masa reses.

Aksi unjuk rasa dari Front rakyat Papua Tolak Otsus mengambil tempat di depan Ramayana Mall dan komplek Yohan terindikasi sebagai upaya untuk menarik simpatik masyarakat dan menguatkan keyakinan masyarakat Papua kususnya warga komplek yohan bahwa otsus telah gagal dan menolak adanya otsus jilid II.

Aksi oleh Front Rakyat Papua Tolak Otsus merupakan yang empat kali di Kota Sorong, dan dalam setiap orasi yang disampaikan menuntut pemerintah agar papua diberikan hak menentukan nasib sendiri atau merdeka.

Aksi unjuk rasa dari Front Rakyat Papua Tolak Otsus merupakan upaya KSP-P agar seolah menunjukkan bahwa suara penolakan otsus masih masif di wilayah Papua Barat khususnya Kota Sorong menjelang pembahasan revisi Otsus tanggal 11 Januari 2021 di DPR RI.

K89YL99

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

loading...

You may have missed