November 26, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

Banjir Menerjang, Diskusi Tak Terhalang

2 min read

Dari Bedah Buku Menjerat Gus Dur di Klasika

ALUNAN beberapa lagu musikalisasi puisi selalu menjadi sajian khas diawal setiap gelaran diskusi di Rumah Idiologi Kelompok Studi Kader (Klasika), di sebuah gang bilangan Waydadi, Sukarame, Bandarlampung. Tak terkecuali sore itu, Selasa (28/01/2020).

Tepat pukul 16.20 WIB Bedah Buku Menjerat Gusdur yang merupakan rangkaian dari Haul ke 10 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di mulai. Empunya buku, Virdika Rizky Utama telah hadir 30 menit sebelum acara dimulai, tepat satu jam setelah kedatangan dua pembicara lainnya, Edy Sudrajat dan Muzamil yang keduanya adalah pelaku sejarah gerakan mahasiswa 98.

Moderator, yang tak lain adalah Pemimpin Redaksi Jarrak Pos Lampung, Ariyadi Ahmad memandu jalannya diskusi dengan cukup dinamis. Antusiasme peserta jelas terlihat. Sejumlah tokoh pun hadir, diantaranya Ari Pahala Hutabarat, Ketua sekaligus Direktur Artistik Komunitas Berkat Yakin (KoBer) dan sejumlah undangan lainnya.

Gus Dur memang sosok yang ‘Kagak ade matinye’ meminjam bahasa Betawi. Ya, jasadnya boleh terkubur, tapi pemikirannya akan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Mendiskusikan Buku Menjerat Gus Dur, satu jam terasa begitu cepat, tak sampai seperminuman teh.

Mantan Aktivis 98, Edy Sudrajat yang saat ini konsen di dunia pemberdayaan masyarakat, telah merampungkan nostalgianya, dengan ulasan sejarah tentang gerakan mahasiswa yang dipimpinnya di era kepemimpinan Gus Dur hingga gerakan perlawanan ketika Gus Dur dilengserkan kala itu.

Isyarat langit akan turunnya hujan mulai terlihat, beriringan dengan raut kekhawatiran panitia. Ya, jelas sudah diingatkan sebelumnya oleh Penanggungjawab Diskusi, Een Riansyah, tradisi diskusi di Klasika selalu outdor dan biasanya jika hujan turun, tepat di lokasi diskusi diterjang banjir.

loading...

Benar saja, belum sampai sepertiga dari pemaparan Aktivis PRD, Muzamil usai, panitia menawarkan agar penjelajah diskusi memasuki ruangan yang sudah disulap menjadi aula dadakan. Sebab, hujan tak lagi memberi ampun.

“Luar biasa semangat teman-teman di Lampung. Ini kalau di Jakarta pasti sudah bubar,” kata Virdika kepada moderator, sebelum diskusi di lanjutkan.

Tidak sampai lima menit, peserta yang tadinya masih bertahan di halaman, sudah bersila di hadapan tiga penyaji materi. Tidak ada yang berubah, semangat dan antusiasmenya tetap sama.

“Banjir menerjang, Diskusi tak terhalang,” tambah Virdika dengan senyumnya yang khas.

Moderator kembali memulai sesi. Diskusi kembali hangat. Narasumber ke tiga menuntaskan tugasnya. Riuh tepuk tangan peserta menepis udara dingin dari luar.

Tersisa waktu 45 menit untuk sesi tanya jawab, yang juga berlalu dengan dialog yang juga tidak kalah seru dengan terjangan banjir di teras depan. “Kalau saja tidak sedang memandu diskusi. Ingin rasanya ku basahi kepalaku dengan air hujan,” mbatinku, disela Closing Statement dari ketiga pembicara.

Apresiasi kepada Peserta, Pembicara, Supporting dan Empunya Acara pun saya sampaikan, petanda diskusi segera berahir.

“Memaafkan tidak akan merubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan.” Quot dari Gus Dur tersebut menutup semua sesi diskusi sebelum ahirnya berlabuh kembali ke master of ceremony (MC). (***)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

loading...

You may have missed