Tue. Sep 15th, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

CALON GUBERNUR SALAH

27 min read

CERPEN
Oleh: Pinto Janir

ORANG sekampung memanggilnya si Salah. Apapun yang ia lakukan selalu salah di mata orang banyak. Seberapa benar pun perbuatannya, orang tetap akan menilainya dengan salah.Pada diri sendiri, sering ia bertanya, apa benar yang salah pada dirinya ini. Matanya normal kok. Kakinya juga normal. Tubuhnya normal. Telinga normal. Tak ada yang cacat dalam batang tubuhnya.

Tapi, mengapa ia terus saja dipersalahkan orang banyak?

Apakah karena ia anak orang miskin? Apakah kemiskinan juga merupakan sebuah kesalahan dalam hidup? Salah jugakah namanya itu ketika bapaknya meninggal lantaran tak mempunyai biaya untuk beli obat. Salahkah ketika bapaknya mati meninggalkan lima orang anak tanpa meninggalkan harta ? Sehingga, ibunya berkuras siang malam untuk menghidupi lima anaknya yang masih kecil-kecil itu.

Salahkah itu, tuan?

Bila hari siang, ibunya mengambil upah bertani di sawah orang. Malam tiba, ibu mengambil upah menyetrika baju tetangga.

Si salah memang anak paling besar. Bapaknya mati ketika usianya baru menginjak 10 tahun. Saat itu ia kelas 3 SD. Siang ia sekolah. Pulang sekolah ia menjajakan goreng pisang Etek* Isah adik ibunya yang juga menjanda karena suaminya mati ditabrak kereta-api.

Dulu ketika ia lahir, sang bapak memberi namanya dengan Jimi Karter. Bapaknya ingin supaya anaknya kelak jadi presiden seperti Jimmy Carter (1)

Begitu terdengar oleh adik sang Bapak bahwa kakaknya memberi nama anaknya Jimi Karter, si adik yang bernama Ambril ini protes: “Uda, apa-apaan Uda ini. Apa benar Uda memberi nama anak Uda yang baru lahir itu dengan Jimi Karter?”

Si Bapak diam. Sambil terbatuk-batuk ia hembuskan asap rokoknya panjang-panjang. Sudah itu, baru ia menjawab, “Benar Am. Memangnya kenapa, Dik?”

“Bukan kenapa-kenapa Uda. Ada Uda tahu kalau Jimi Karter itu nama orang Yahudi? Apa Uda mau keluarga kita disebut keluarga keturunan Yahudi. Salah uda itu. Gantilah namanya. Tak usah kebarat-baratan segala!”.

Si Bapak diam. Isap rokoknya makin dalam dan makin cepat-cepat. Ia hembuskan asap rokok itu tiap sebentar seperti cerobong asap kereta api.

“Mengapa Uda diam?”

Tampaknya Ambril mendesak sang kakak supaya nama itu diubah secepatnya.

“ Saya ingin anak saya ini nanti jadi orang hebat. Menjadi presiden pula nanti kalau ia sudah besar. Apakah itu salah? “

“ Ya, Salah! Sudahlah. Uda jangan bermimpi juga lagi. Ketawa nanti orang sekampung Uda, saya juga yang menanggung malu. Sudah…!Gantilah nama itu lekas, Da…” kata Ambril dengan suara tinggi.

“Ganti? Memangnya kenapa. Am?”

“ Ya sudah.lah Da. Jangan uda banyak Tanya juga lagi. Nama itu nama salah. Uda ganti saja dengan nama yang lain!”

Sejak itu sang Bapak termenung-menung sendiri. Kalau tak ia ganti nama anaknya, ia khawatir hubungannya dengan adiknya akan rusak. Adatnya adiknya ini sejak dulu memang tak bisa dibantah-bantah. Bahkan, ketika adiknya hendak menjual tanah pusaka kaum, ia tak kuat melarangnya. Adiknya keras !

Dua hari kemudian nama sang anak ia ganti menjadi “ Jamiri Kardi”. Panggilannya Jambri ! Tapi, nama yang lekat itu agaknya Jambri saja.

Dan…
Suatu ketika pada peringatan 17 Agustusan, sebuah tali tempat menggantungkan bendera-bendera kecil yang melintasi gang kampung terputus.

“Ini pasti kesalahan si Jambri ini. Masak pasang tali sembarangan”, kata Pak Ketua RT di hadapan beberapa anak-anak kawan sepermainan Jambri. Jambri melawan. Ia memberontak.

“Bukan saya yang memasangnya, Pak. Yang pasang tali itu si Ujang !”

Waktu itu dengan jujur, Ujang yang berada di kerumunan anak-anak itu mengangguk dengan polosnya dan menjawab.

“Benar saya yang memasang Pak. Tapi, Jambri yang memilihkan talinya!”

“ Itu dia. Itu Kesalahan Jambri. Masak tali lapuk dipilih untuk dipasangkan di sini!”

Jambri hanya bisa diam. Bocah itu terpukul namun tak kuasa membalas. Agaknya ia a tahu benar dengan perasaian untung badan diri.

Bahkan ban sepeda motor guru yang bocor pun juga disebut gara-gara Jambri sembarangan buang paku. Terjadi banjir di kampungnya, Jambri juga yang disalah-salahkan.

“Ah Jambri, sembarangan buang sampah, banjir kampung kita gara-gara dia!”

Biasanya, bila disalah-salahkan begitu, Jambri hanya mampu diam saja. Tapi ada satu kata yang tak terkatakan di hatinya. Ia, sungguh ingin melawan. Suatu saat ia akan membalas dan melawan. Lihatlah kalau tidak!
***

Ketika Jambri menginjak kelas dua SMP ia jatuh hati pada Puti. Anak orang kaya. Puti juga suka pada Jambri. Selain ibunya, hanya Puti satu-satunya orang yang tak pernah mengatakannya salah pada Jambri. Tapi hubungan itu tak bertahan lama, karena Jambri tak mampu lagi menahan hinaan kawan-kawannya yang mengatakan bahwa Puti jatuh cinta pada orang yang salah.

“ Kamu salah Puti, seperti tidak ada saja lelaki lain di sekolah ini selain si Jambri…!” kata Idah kawan Puti yang memang tidak suka pada Jambri karena bapak si Jambri dulu pernah bertengkar dengan ayah Idah soal air irigasi sawah.

“Memangnya kenapa Idah?”

“ Belum juga kau sadar. Apa yang kau harapkan dari anak miskin itu? Di sekolah ia biasa-biasa saja. Ia tumpuan bulian kawan-kawan. Bajunya tak pernah ditukar-tukar. Itu ke itu saja….Bapaknya mati karena TBC. Bisa jadi dia juga mengidap penyakit serupa bapaknya. Memindah ke kamu nanti, baru kamu tahu rasa…”

Sekali ini hati Jambri benar-benar sakit dan luka. Ia mengintip pembicaraan di sudut kelas itu. Jambri paling tersinggung kalau disebut-sebut soal bapaknya. Jambri boleh disalahkan, tapi nama bapaknya jangan dibawa-bawa. Ia akan marah. Sejak itu, ia putuskan tali cintanya pada Puti sekalipun cintanya pada Puti amatlah besar.

Puti menangis duka , Jambri pergi membawa luka.
***

Ada salah seorang yang sangat kasihan pada Jambri. Ia adalah Engku Labai.Guru mengaji Jambri. Engku labai yang selalu memberikan semangat pada Jambri.

“ Engku minta, kamu sabar Jambri. Jangan hiraukan semua tekanan orang padamu, Nak!”

“Iya engku”, begitu kata Jambri lunak.

Bola mata bocah itu sabak. Ia berusaha membujuk hatinya supaya jangan menjatuhkan air mata di muka Engku Labai. Jambri tak pernah menangis dipersalahkan, tapi ia merasa bersalah, mengapa hidupnya miskin. Mengapa? Tak terasa titik air matanya jatuh jua.Lekas-lekas ia seka dengan tangannya yang berkelasa.

Namun ia yakin, bahwa ia dilahirkan sebagai seorang lelaki bukan sebagai orang kalah apalagi orang salah.

Dua hari yang lalu, Engku Labai memanggil Jambri ke surau*. Kebetulan anak Engku yang paling besar yang baru berumah-tangga dapat panggilan kerja di Jakarta. Engku meminta Jambri untuk ikut bersama anaknya ke rantau.

“ Kamu ke Jakarta sajalah. Nanti kamu bisa sekolah di sana. Anak saya butuh orang yang bisa untuk membantu-bantunya di sana. Tapi bukan sebagai pembantu, Nak. Kerja kamu tidak berat. Menyapu. Mencuci piring dan mencuci baju serta menyeterikanya. Dan kamu tetap bisa bersekolah di sana….”,ujar Engku pada Jambri di surau tua yang hampir roboh itu.

“Bagaimana Jambri, apa kamu mau?”

Jambri tak langsung menjawab tawaran Engku Labai untuk menemani anaknya di rantau orang.

“ Saya tanyakan dulu ke Amak*…Engku!”

Dan…
Dengan air mata Amak melepas kepergian Jambri merantau bersama Ir. Sahrilcap anak tertua Engku Labai.

“ Hati-hati Nak, pandai-pandai menjaga diri!”

Amak memeluk Jambri. Air mata Amak jatuh dan membasahi pundak Jambri.
***
Jambri hanya sampai tamat SMA tinggal di rumah Ir Sahrilcap. Setelah itu ia keluar dari rumah Ir Sahrilcap.

“Uda, terimakasih.Selama ini uda telah membiayai saya sekolah. Tak enak rasanya kalau saya terus-terusan di rumah Uda ini. Biarlah saya mengadu nasib di luar sana!”

“Ha?” Sahrilcap yang dipanggil uda oleh Jambri terbulalak.

“Mengadu nasib? Emangnya kamu kira gampang cari kerja di Jakarta ini? Apalagi kamu hanya tamat SMA. Mau jadi apa kamu di luar sana? Jadi gelandangan? “

“ Yakinlah uda, saya tidak akan jadi gelandangan. Saya diajak berdagang di Tanahabang oleh teman SMA saya. Bapak teman saya itu punya toko di Tanah Abang. Saya ingin bantu-bantu bapaknya menggalas”, Jambri hati-hati menyampaikannya. Sahrilcap sangat sayang kepada Jambri. Ia sudah menganggap Jambri seperti adik kandung sendiri. Jambri tak ingin melukai hati Uda Sahril.

“ Biarlah saya belajar untuk hidup sendiri Uda…saya kos di luar sana !”

Sahrilcap mengizinkan. Ia tak bisa lagi tampaknya menolak kerasnya hati Jambri. Padahal Sahril ingin menguliahkan Jambri tinggi-tinggi.

Jambri itu jujur. Ia pekerja keras.
Tiap terbayang olehnya jari-jari menunjuk ke hidungnya dan selalu mempersalahkannya, ia jadi bersemangat untuk menjadi orang kaya. Tiap terbayang kemiskinan olehnya,semangatnya muncul untuk mewujudkan mimpinya yang besar yang terus hidup di kepalanya.

Semula ia hanya jadi pelayan toko.Lama-lama ia belajar berdagang di kaki lima. Barang yang ia dagangkan, adalah barang-barang toko H Surdi, bapak kawannya masa SMA itu. Barang dibayar sebanyak seberapa terjual atau seberapa laku di pasar.
Dari kaki lima, Jambri dapat membeli toko di Tanah Abang. Ia mulai main besar. Mulai bermain di pasar grosir. Bahkan, ia termasuk pedagang besar di Tanah Abang. Bisnisnya mulai main ekspor impor tekstil. Cabang tokonya mulai ada di mana-mana.

Bertahun sudah berlalu. Jambri mengembangkan bisnisnya ke cabang lain yakni ke bisnis kuliner. Rumah Makan “Selera Jambri” masakan si Padang nyaris tersebar di mana-mana. Bisnisnya makin menggurita saja.

Dari pedagang kaki lima meningkat ke grosir. Dari grosir ke importir. Dari importir ke kuliner. Dari kuliner ke bisnis properti. Ia punya pula beberapa hotel dan kini sedang mengembangkan bisnis apartemen yang ia beri nama “Jambri’s City”. Selain itu Jambri sedang mengembangkan bisnis otomotif dengan menjual mobil-mobil berkelas dunia. Pelanggannya, para artis dan pejabat korup.

Bahkan, konon beberapa di antara staf khusus Presiden yang rata-rata anak muda sukses itu adalah kolega bisnis Jambri. Jambri kini sedang mengembangkan bisnis pendidikan di dunia internet yang ia berinama “Ruang Murid Jambri”.

Rumahnya di kampung sudah berganti corak. Dari rumah gubuk menjadi rumah rancak *. Bahkan, seperempat dari luas tanah di kampungnya itu adalah milik Jambri. Orang banyak menjual sawah dan ladang ke Jambri. Banyak juga harta pusaka kaum sudah beralih kepemilikan ke tangan Jambri. Asal ada orang kampungnya menyodorkan sertifikat, sah dibeli oleh Jambri.

Garis keturunan kaum Jambri tak ada yang Datuk *. Tapi walau begitu Jambri ingin pula mendapatkan gelar Datuk . Apapun dan bagaimanapun caranya gelar itu jarus disandang Jambri. Harus ia dapatkan. Ia punya duit. Orang punya gelar kebangsaan. Apa juga lagi, bukankah duit dianggap oleh sebagian orang sebagai “Tuhan” di muka bumi ini. Ini pitih, mana gelar?

“ Om, tolong carikan saya gelar Datuk”, Jambri menelpon saudara ibunya di kampung.

“ Jambri, suku kita suku malakok*.Tak ada gelar datuk yang bisa disandangkan untuk kita. Tak ada ranji kita berdatuk!”

“ Saya tidak mau tahu Om. Rekan bisnis saya di sini semua bergelar bangsawan. Mitra bisnis saya dari Sulawesi bergelar Andi. Dari jawa bergelar Raden. Masak orang kaya seperti saya, orang Minang, tak bergelar Datuk. Pokoknya pandai-pandai Om-lah mencarikan gelar untuk saya. Bila perlu, beli para ninik mamak kaum supaya mau mengakui bahwa kita adalah dunsanak* mereka yang patut dan pantas mewarisi gelar Datuk. Berapa pun biayanya, Om tinggal sebutkan angka-angika”, kata Jambri yang dulu memanggil mamak* kepada adik ibunya itu.Sejak ia kaya, panggilan itu ia ubah menjadi om.

“ Jambri, ini bukan soal duit. Garis keturunan kita tak bisa mendapatkan gelar datuk. Ranji* siapa yang akan kita pakai?”

“Terserah Om ! bila perlu, ranji itu kita beli…”

Klik. Jambri menutup HP-nya.

Keinginan Jambri untuk mendapatkan gelar Datuk itu sampai ke telinga beberapa ninik mamak di kampungnya. Sejak Jambri kaya, ada-ada saja kaum yang mengaku bahwa Jambri adalah saudara kontan mereka. Ada yang menyodorkan-nyodorkan beberapa ranji atau garis keturunan yang ujungnya bertemu pada garis keturunan Jambri. Garis keuturunan itu menjadi dasar sah kalau gelar datuk patut jatuh ke Jambri.

“ Jambri itu sebenarnya, saudara sedarah dengan keturunan kita. Ini buktinya”, kata Mardambin ninik mamak kaum kampung sebelah seraya memperlihatkan skema garis keturunan di atas sebuah kertas HVS.

“Bagaimana sekiranya untuk membangkit batang terandam* kaum kita, Jambri kita anugerahi gelar Datuk dari kaum kita.Bagaimana….? ”

“Setuju…!”

Ruang rapat adat di kaum Mardambin itu gemuruh oleh tepuk tangan. Setuju apa yang ke tidak. Dunsanak dan kemenakan Mardambin sudah sangat tahu bahwa Jambri adalah orang kaya asal kampung sebelah yang sukses jadi pengusaha besar di Jakarta.

“Sebentar, saya telepon dulu kemenakan kita ini, Pak Jambri. Saya akan kabarkan kalau gelar Datuk itu akan diberikan oleh kaum kita untuknya. Karena, Jambri saudara kontan kita juga. Jadi pantas dan patut kita dudukkan gelar Datuk untuk Jambri”.

Tak lama setelah itu, Mardambin menghubungi Jambri.

“ Pak Jambri, kaum kami sepakat memberikan gelar Datuk untuk Bapak”

“ Ya.Bagus.Terimakasih…terimakasih….”

“Tapi….Pak!”

“Tapi bagaimana?”

“ Rumah gadang kita ini Pak harus kita bangun megah. Hampir roboh tonggak dan tiangnya,Pak. Apa kata orang nanti kalau rumah gadang kaumnya Pak Jambri sudah mau runtuh begini…Pak Jambri juga nanti yang akan menanggung malu. Masak, datuknya kaya, rumah gadangnya buruk. Saya khawatir…Nampak betul nanti kaum kita miskin…”

Mendengar kata miskin disebut-sebut, sungguh menggelegak jantung Jambri dibuatnya.

“Ya, sudahlah… itu soal kecil. Berpantang dalam hidup saya kalau kaum saya dianggap miskin. Kirimkan ke saya nomor rekening Pak Mardambin, besok saya suruh staf saya mengirimkan uang.Berapa jumlahnya?”

“ Kalau dihitung-hitung, habis duit sekitar Rp 4 atau 5 M, Pak….?”

“ Kok besar amat. Bisa kurang ndak?”

“ Kurang-kurang sedikit mungkin bisa Pak!”

“ Ya sudah, besok saya kirim Rp 3,5 M !”

Setahun kemudian rumah gadang itu selesai. Gelar datuk untuk Jambri sudah dilewakan. Namanya menjadi Jambri Datuk Kabanaran Nan Tinggi. Kabanaran itu artinya kebenaran. Jambri tak lagi menjadi Jambri yang salah tapi menjadi Jambri yang selalu benar bagi orang kampungnya. Tiap Jambri berkata, angguk orang tiba. Tak ada lagi yang menggeleng, apalagi menyalahkannya. Kalaupun salah Jambri berkata, orang banyak tetap membenarkannya. Sekampung taka da yang berani membantah kalau duit Jambri sudah bicara.

Helat penganugerahan gelar Datuk itu dilewakan* dengan prosesi besar-besaran. Jambri mengundang kolega bisnisnya dari Jakarta. Ia carter satu pesawat dan ia boking satu lantai sebuah hotel berbintang di Bukittinggi. Hampir semua bupati dan walikota di Sumbar hadir mengikuti prosesi penganugerahan gelar Datuk untuk Jambri.

Pada saat penganugerahan berlangsung, dalam sebuah pidato adat, seorang ninik mamak berkata : “ Jambri Datuk Kabanaran Nan Tinggi adalah putra daerah yang sangat membanggakan kita. Beliau orang benar. Orang tak berkesalahan sedikitpun. Ia orang benar. Makanya, gelar Datuk Kabanaran Yang Tinggi patut disandangkan pada Jambri. Beliau patut dan pantas untuk kita jadikan calon Gubernur Sumbar “.

Wow.

Hadirin bertepuk tangan !

“Hidup datuk…hidup datuk…hidup datuk! Hidup Datuk Kabanaran”

Bergemuruh. Ya. Gemuruh sekali suasananya.

Si salah itu sudah menjadi Datuk Kabanaran kini.

Mendengar namanya disebut-sebut sebagai orang yang layak dan patut jadi calon gubernur, Jambri barutersintak sadar. Harta ia punya.Gelar datuk pula. Sekolah S1 juga sudah ia selesaikan. Bagaimana cara dapatnya, tak tahulah kita. Yang kita tahu, tahu-tahu di nama asli Jambri yang Jamiri Kardi sudah tertera saja gelar S Sos. Bunyi kabar, ia akan melanjutkan pendidikannya ke S2 karena ada koleganya punya perguruan tinggi ternama. “ yang penting Pak Jambri mendaftarkan diri jadi mahasiswa S2.Soal tugas-tugas kuliah, aman itu. Datang juga ke kampus sekali-sekali. Pokoknya aman, Pak Jambri aman!” itu kawannya pemilik perguruan tinggi swasta di Jakarta. “Bila perlu, Pak Jambri lanjut sampai S3 !”

Hmm. Jambri merenung. Merenung.Berpikir.Merenung.
Saya harus ikut jadi calon gubernur…! Bisik hati Jambri.Wajahnya penuh harapan.Berbinar-binar. Sudah terbayang olehnya kelak bila menjadi Gubernur Sumbar. Tepat lima tahun pertama periode pertama menjadi gubernur, gelar S3 sudah di tangannya. Gubernur Sumbar DR Jambri Datuk Kabanaran Nan Tinggi. Aduhai, asiknya. Pada periode kedua jadi Gubernur, gelar professor sudah pula terbayang di matanya.

Namun ada satu peristiwa yang tak tertangkap oleh Jambri ketika diam-diam di sudut rumah gadang tempat perhelatan itu ada seorang ibu muda menggendong anaknya. Ia adalah Puti. Memandang Jambri, hati Puti terenyuh. Cintanya pada Jambri tak pernah lusuh. Bahkan hingga tamat kuliah, ia tak pernah berpacar. Ia menunggu Jambri. Tapi Jambri seperti sudah melupakan dirinya. Sampai pada akhirnya, orangtua Puti menjododohkan Puti dengan seorang pedagang.

Kebetulan Puti tahun itu sedang mudik. Hanya sebentar di kampung halaman. Selanjutnya ia kembali ke Manado. Ia juga enggan bertanya-tanya atau mengorek-ngorek tentang apa dan bagaimana Jambri. Ia tak ingin sedikitpun mencari tahu tentang Jambri. Ia telah menguburkan cintanya pada Jambri. Ia hadir ke acara prosesi itu hanya secara kebetulan belaka. Kebetulan, tempat prosesi penganugerahan gelar adat untuk Jambri itu di kampung asal suaminya. Hanya itu.

Ia tidak tahu, kalau Jambri masih sendiri. Ia pun enggan bertanya ke orang lain. Ia takut, orang menanggapinya dengan macam-macam. Namun ia heran, biasanya seorang yang dalam acara sebesar ini, pasti ada seorang perempuan yang mendampinginya. Tapi, mengapa ketika Jambri dilekatkan gelar adat padanya, tanpa ada seorang pendamping di sisinya. Mengapa?

Ah, Puti tak ingin memikirkan ini lebih jauh lagi. Ia benamkan saja pikirannya itu.
Sayang, Puti tidak pernah tahu bahwa ternyata hingga kini, Jambri juga belum bertemu jodoh. Ia dan hari-harinya adalah kerja keras dengan membesarkan bisnis-bisnisnya. Tak terhitung banyak orang yang datang ke Amak untuk meminang Jambri. Nan Jambri, tetap menolak pinangan orang!
***

Setahun sudah ia diangkat menjadi Datuk. Namun keputusan ia maju menjadi calon gubernur, baru ia putuskan dengan pasti ketika Presiden Jokowi memaklumatkan tanggal 2 Maret bahwa ada dua orang WNI terjangkit Corona (2).

Ia melihat peluang di masa wabah Corona membadai. Niatnya menjadi tambah keras untuk maju.. Dengan uangnya yang segudang, ia yakin menang.

“ Kamu kenal dengan bapak Denny JA? (3). Bisa kamu menghubungi beliau?” kata Jambri bertanya kepada Ir Gerhan salah seorang menejer di perusahaan Jambri.

“ Bisa Pak. Nomor kontak Pak Denny bisa saya carikan untuk Bapak. Beberapa orang teman-teman saya juga berkawan dengan Pak Denny JA “

“ Ini Denny JA yang konsultan politik itu lho.Yang di LSI (4)….?”

“ Iya Pak. Denny JA yang penyair dan sastrawan itu, kan ?”
“ Kamu ada-ada saja. Denny JA yang konsultan politik. Yang hebat gitu lho…bukan yang penyair-penyair….”

“ Benar Pak, ini saya lihat Wikipedia. Di sini tercacat, Denny JA konsultan politik. Denny JA itu Pak termasuk ’33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia’ (4). Dia pengarang puisi esai Saputangan Fang Yin .Ia pelopor Puisi Esai dan kini sedang mengembangkan cerpen esai lho Pak….!”

“Ha…? Kamu kok banyak tahu tentang Denny JA?”

“ Ya…iyalah Pak. Pacar saya kan penulis puisi esai ….hehehehe “, ujar Ir Gerhan seraya berkata:” biar saya hubungi dulu pacar saya itu Pak. Mudah-mudahan ia tahu nomor kontak Denny JA”, ucap Gerhan sambil mengutak-utak Hpnya dan me-wa pacarnya.

Tak lama kemudian, Gerhan memberikan nomor Denny JA ke Jambri.

Jambri memanggil sekretarisnya di kantor Pusat Bisnis Jambri itu.

“ Kamu hubungi LSI, minta bicara dengan Pak Denny. Kalau sudah terhubung, sambungkan Denny dengan saya “, kata Jambri ke sekretarisnya itu.

“ Baik Pak…..!”

Tak lama kemudian, sekretaris menghubungi Jambri kembali.

“ Pak, kita sudah terhubung dengan Pak Denny JA…di line 4 ya Pak”, ujar Sekretaris.

Habis bicara dengan Denny JA, wajah Jambri cerah sekali. Tak tahu kita, apa isi pembicaraan mereka. Ada sekitar satu jam lebih mereka bercakap-cakap di telpon.
Cuma ilmu dagang Jambri keluar. Dalam hati ia berpikir-pikir.

Ini kata hatinya itu:

“ Kalau dipikir-pikir, untuk apa saya harus pakai lembaga survey. Saya dagang tanpa survey sukses juga kok. Bicara tentang brending…mobil saya mobil brending semua. Baju saya baju brending. Hotel saya hotel brending. Mendingan saya kumpulkan semua staf-staf saya…biar saya suruh mereka berpikir untuk membrending saya….”.

Terimakasih Denny JA, sejam bicara sudah membuat saya menjadi orang cerdas berpolitik, bisik kata Jambri yang merasa seakan-akan tahu politik walau hanya satu jam bicara dengan Denny JA.
***

Sejak dua bulan masa Corona, Jambri Datuk Kebenaran Nan Tinggi rajin pulang kampung.

“ Pak, tak usah sering-sering pulang Pak. Kini Corona sedang dalam masa puncak. Nanti Bapak kena. Kalau Bapak kena, siapa yang melanjutkan bisnis Bapak.Maaf Pak, saya sudah lancang mengingatkan bapak…”, kata Indahsuci sang sekretaris yang diam-diam merasa jatuh hati Jambri. Tapi Suci tak mampu mengungkapkannya, karena merasa tak sepadang dengan Jambri yang kaya raya. Ia malu jatuh cinta pada Jambri, karena merasa orang kecil yang tak punya apa-apa.

“Pak sebaiknya Bapak tak usah sering-sering pulang kampung.Nanti Bapak kena Corona”, sekali lagi Suci mengingatkan Jambri yang asik dengan hp-nya.

“ Kenapa?”

“Nanti bapak kena Corona. Sekarang keadaan makin rawan, Pak….”

Jambri orangnya pantang diingatkan. Mengingatkan Jambri, sama artinya dengan mengembalikan ingatan Jambri ke ruang “kesalahan”. Itu akan bikin Pak Jambri marah besar.

“Kamu jangan ingat-ingatkan pula saya. Apa yang saya laksanakan adalah apa yang benar!”

“Baik Pak…baik Pak”, sang sekretaris merasa bersalah agaknya. Suci gugup, lalu pamit keluar ruangan.
Tapi jauh di lubuk hati Jambri, ia membenarkan apa yang dikatakan sekretarisnya itu.
Tahukah kita kalau ternyata Jambri telah menunjuk Mardambin sebagai ketua tim suksesnya di kampung.

Jambri akan memanfaatkan musim Corona untuk mengampanyekan dirinya sebagai salah seorang Calon Gubernur Sumbar ke depan.

Sejumlah peralatan APD,masker,sembako sudah disebar ke masyarakat luas. Tim suksenya, menurut Mardambin sudah tersebar hampir di tiap kota dan kabupaten.

Beberapa rumah sakit dibantu Zambri dengan bantuan APD untuk tenaga medis. Tiap menyerahkan bantuan, Mardambin memprinter gambar Jambri yang dilekatkan ke triplek seperti ukuran tubuh Jambri sebenarnya. Belakangan sudah diganti dengan patung Jambri yang terbuat dari aluminium dan persis seperti Jambri.

Patung Jambri itu sambil mengepalkan tangan tanda semangat !

Tiap tim dan relawan menyerahkan bantuan, selalu didampingi patung Jambri dan seperangkat alat soundsystem yang terpasang di mobil pik up. Bunyinya keras dan jernih.

“Halo…halo…test…test…test” Jambri yang berada di luar pekarangan Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukittinggi (5) mengetes suara soundsistemnya.

“Keras kan sedikit lagi….” Mardambin berkata pada Wan Danul operator merangkap sopir tukang angkut sound.

“ Test…test…test….”, sekali lagi Mardamin mencoba suaranya di mik itu,” Pas. Sudah keras. Sudah bisa didengar semua pasien terpapar Corona yang sedang dirawat di Rumah Sakit ini (6).Mantap…”, Mardambin mengacungkan jempolnya ke Wan Danul.

“Kami atas nama Pak Jambri Datuk Kabanaran dan didampingi langsung oleh patung Pak Jambri, dengan ini menyerahkan sejumlah bantuan APD dan masker untuk rumah sakit kita di sini ini”, demikian kata Mardambin Ketua Tim Sukses Pemenangan menuju bakal calon Gubernur Sumbar (7) . Bantuan itu diserahkan dengan pembatas pagar. Buk dr. hj. Erma Mailani sebagai pihak penerima menerima dengan penuh senyum. Mardambin sebagai pihak pemberi menyerahkan dengan penuh bangga.

“ Kami atas nama keluarga besar RSAM Bukittinggi mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan yang diberikan Pak Jambri. Terimakasih dan semoga berkah….”, kata buk dokter hajjah Erma singkat dan padat sambil menyerahkan kembali mik itu ke Mardambin.

Tapi kemudian Mardambin berbisik ke buk dokter : “ Tolong ibuk katakan sedikit saja. Tak perlu lama-lama. Sampaikan juga bahwa Pak Jambri ini adalah bakal jadi calon kuat calon gubernur Sumatera Barat. Ibuk katakana sedikit saja. Sampaikan bahwa Pak Jambri adalah pengusaha sukses yang rajin solat dan mengaji serta suka memberi antar sesama.Orangnya pehiba.Berpantang mendengar dan melihat orang susah….”.

Buk Dokter mengerenyutkan alisnya. Sepertinya ia keberatan menyampaikan apa yang didiktekan oleh Mardambin, karena bagi Buk Dokter tugasnya adalah tugas kemanusiaan bukan tugas-tugas politik.

“Pak, kita lagi Corona Pak, bukan lagi kampanye?”

“Sama saja itu Buk. Ini corona…ini bantuan Pak jambri utk memerangi Corona ….”, kata Mardambin sambil menunjuk sejumlah bantuan APD dan masker, “ dan ini Buk”, Mardambin menunjuk patung Jambri, “…calon gubernur kita yang baik itu..berpengalaman, kerja nyata dan sudah teruji”.

“Bapak sajalah yang menyampaikannya, ya !” tolak Buk dokter dengan bahasa lunak tapi dengan nada agak tinggi karena Mardambin terus seperti memaksa menyampaikan kata-kata yang didiktekan Jambri.
“ Kalau begitu, oke….!” tukas Mardambin.

Tak lama kemudian, lewat corong mik yang mengalirkan suara dari soundsistem dari bak mobil terbuka itu menggema dan menggaga hingga ke dinding-dinding tebing Ngarai Sianok (8).

“ Kami dari tim Jambri telah menyerahkan sejumlah Alat Pelindung Diri dan masker untuk dibagikan secara gratis kepada pasien dan keluarga pasien di rumah sakit ini”, suaranya menggelegar. Bahkan terdengar sampai ke berbagai ruang pasien di rumah sakit itu. Di lantai atas, pasien banyak menjulurkan mukanya dari jendela menyaksikan dan mendengar Mardambin bicara.

“ Pak Jambri orangnya rajin solat dan mengaji. Ia pengusaha sukses. Ia orang berpitih* banyak. Rusak mesin kalkulator kalau menghitung betapa banyak uang Pak Jambri kita ini. Pada pemiliha Gubernur mendatang, Insya Allah Pak Jambri akan mencalonkan diri menjadi calon gubernur kita. Ingat Corona, ingat Pak Jambri. Semoga ranah Minang tercinta terlindungi dari virus Corona dan Pak Jambri menjadi gubernur kita untuk kita semua. Corona berlalu, Pak Jambri tiba.Terimakasih.Wassalammualaikum warrahmatulahhiwabarakatuh…..”.

Mardambin menutup miknya. Sambil mengangkat dua alisnya, ia memandang ke Buk Dokter.

“Bagaimana, Buk? Mantapkan?”
Buk dokter hanya tersenyum kecil.

Tiba di kantor tim sukses, Mardambin langsung menelpon Jambri.

“ Pak Gubernur……”, wuis….Mardambin memang sengaja memanggil Jambri dengan panggilan Pak Gubernur. Panggilan ini pernah ditolak oleh Jambri. Namun Mardambin meyakinkan Jambri bahwa ucapan adalah doa.

” Pak Gubernur, lapor…tim sukses kita sudah berhasil menyalurkan bantuan APD dan masker ke RSAM. Pasien pada bertepuk tangan menyambut bantuan kita. Satu kota orang mendengar isi pidato saya tentang Pak Jambri”.
“Bagus…bagus…..!” balas Jambri di ujung gagang HP nun jauh di Jakarta sana.
Lalu Jambri mengabarkan bahwa di Sumbar sudah diberlakukan PSBB (9) .

“Pak Gubernur, melihat perkembangan yang sangat signifikan, saya sarankan supaya Pak Gubernur membeli mobil ambulan untuk kita bagikan ke satuan tugas covid19 di 12 kabupaten dan 7 kota di Sumbar “, kata Mardambin.

“O hanya 19 biji mobil? Gampang itu Pak Mardambin. Nanti uangnya segera saya kirim”.

“Bukan 19 Pak, tapi agak 24 bijilah. Sembilan belas kita bagikan nan 5 mobil lagi untuk tim inti kita di tim sukses….”, Mardambin sengaja melebihkan jumlah mobil karena ia tahu, Jambri pasti akan menawar jumlah tersebut. Bisa saja jadi 22 atau 21 atau 20 mobil saja yang disetujui atau dipenuhi Jambri. Mardambin sudah membayangkan punya mobil baru untuk pergi lebaran nanti.

“ Ya, sudah..saya kirim uang DP untuk 22 mobil !”

“Jangan hanya uang DP Pak Gubernur, lebihkan juga untuk biaya pemasangan stiker dan gambar Pak Gubernur di mobil ambulan itu. Ini gunanya untuk branding nama Pak Gubernur juga…..”

Kalau kata branding sudah disebut-sebut, habis main Jambri. Kata branding mengingatkan ia pada konsultan politik Denny JA. Waktu mereka berteleponan, Denny JA mengingatkan berkali-kali soal memilih branding yang tepat untuk pergerakan politik Jambri.

Mengapa Jambri tidak jadi menggandeng LSI Denny JA sebagai konsultan politiknya? Ya, alasan Jambri adalah bahwa ia telah memiliki rasa konsultan. Ia sudah merasa bahwa ilmu konsultan politik itu sederhana. “Ah, awak orang Minang ini, konsultan semua ini”, begitu bisik hatinya.

“Halo Pak Gubernur…..”

“Oh iya….”, Jambri tersintak dari lamunannya.

“ Adapun biaya untuk membrending mobil itu adalah Rp 7,5 juta permobil.Totalnya adalah tujuh setengah juta kita kalikan untuk 22 mobil dan ditambah komisi untuk tukang pasang sebagai brending bahwa Pak Jambri itu orangnya dermawan “.

“ Pak Mardambin… kirimkan hitungan yang pasti.Besok saya kirim”, ujar Jambri menutup teleponnya.

Baru saja Jambri menutup teleponnya, Mardambin sudah menghubungi kawannya yang bernama Zainudin yang akrab dipanggil Udin yang kerjanya tukang pakang jual beli mobil.

“Saya mau beli dua puluh dua mobil. Sebanyak 19 untuk mobil ambulan dan tiga mobil untuk dipakai tim sukses yang jenisnya satu sedan dan dua Avanza. Berapa komisi saya?” kata Mardambin kepada Udin.

“ Bisa saya usahakan satu juta untuk satu mobil !”

“Kecil. Saya mau, dua juta untuk satu mobil. Saya menghubungi Udin karena Pirin hanya mampu memberi komisi satu setengah juta untuk satu mobil.Makanya saya menghubungi Udin….”.

Pirin hanya nama khayalan Mardambin saja.

Tanpa banyak cerita, Udin langsung bergegas bicara: “ Ya, saya mampu memberi komisi satu koma tujuh juta permobil !”.

“Mantap.Itu baru bisnis namanya.Besok siang kita ke showroom….”, Mardambin ketua tim sukses pemenangan Jambri Datuk Kebenaran langsung menutup teleponnya.
Sementara, nun jauh di sudut kampung sana, Puti mantan pacar Jambri sedang berduka. Suaminya meninggal karena covid19. Jumlah korban meninggal di karena Corona di Sumbar makin hari makin bertambah juga (10).

Puti yang cinta sejatinya ada pada Jambri itu sedih dalam duka yang amat dalam. Bahkan ia juga terpapar virus Corona. Ia sudah diisolasi sejak beberapa hari di RSAM Bukittinggi. Ia yang tak bisa menghantar suaminya ke peristirahatan penghabisan itu, sempat berdebar-debar di ruang isolasi ketika nama Jambri menggema dari sebuah mik sewaktu Mardambin menyerahkan bantuan APD ke rumah sakit milik pemerintah propinsi ini beberapa hari yang lalu.

Sementara jauh nun di Jakarta sana, hingga kini, Jambri memang sulit melupakan Puti. Itulah alasannya mengapa sampai kini, Jambri belum juga berbini.

Entah mengapa, Puti tak bisa bersembunyi dan lari dari hatinya. Ia berduka kehilangan suami, itu adalah sebuah fakta. Tapi, ia menyimpan rindu yang sangat dalam pada Jambri, itu adalah cerita yang tak pernah lenyap di hatinya, hingga kini sampai akhir masa.

Hingga suatu kali Jambri mendapat nomor kontak HP Puti yang sedang diisolasi di rumah sakit RSAM itu.

“ Assalamualaikum….”, suara Jambri bergetar. Suara yang sudah hampir 30 tahun tak didengar oleh Puti itu membuat imun tubuh Puti meningkat.Semangatnya kembali ada untuk hidup. Ia dapat mengenal suara itu. Tapi ia pura-pura tak mengenalnya….

“Waalaikum salam…..” jawabnya.

“ Ini Puti?”

“Iya…” jawab Puti. Sementara hati Puti makin berkecamuk.Amuk rindunya sekuat badai Corona, “ini siapa?”

“Saya temanmu waktu SMP, Jambri……”

Puti terdiam. Temanmu? Padahal ia menginginkan Jambri menyebut, ini kekasihmu waktu SMP. Hatinya hambar kembali.

“Iya, ada apa Jambri?” Puti membalas dengan datar. Mendengar jawaban Puti yang dalam kalimat datar, hati Jambri yang tadinya penuh rindu menjadi mencair….

Namun mereka, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saling tak mampu menghentikan tarian rindu di dasar lautan hati yang membiru.

“ Puti.Saya dapat kabar suamimu meninggal karena corona. Saya turut berduka. Saya juga dapat kabar dirimu sedang diisolasi di RSAM Bukittinggi. Saya doakan Puti cepat pulih. Kalau ada kesulitan apa-apa jangan segan-segan hubungi saya. Kita berteman sejak kecil….”

Ah, sungguh, lagi-lagi kata berteman itu membuat Puti ngilu.Ngilu sekali. Terbayang olehnya betapa manisnya perlakuan Jambri padanya dulu semasa SMP itu. Betapa ia luka karena diputus Jambri. Ia bertemu dengan suaminya karena dijodohkan oleh orangtuanya. Di hatinya hanya ada Jambri. Ia hanya menunggu cinta Jambri seorang. Dan ia yakin, suatu saat akan menemukan cintanya yang hilang itu kembali.

“Puti….”

“Ya….”, Puti yang dari terdiam mengenang masa lalu itu tersintak,”Ya…Jambri”.

“Puti jangan sedih. Bersabar ya….”

“Terimakasih Jambri. Titip salam untuk anak-anak dan istrimu….”
Ha, istrimu?Anak-anakmu? Apa Puti tidak tahu kalau Jambri sampai kini masih sendiri? Sungguh, Puti benar-benar tak tahu kalau Jambri hingga kini belum berkeluarga.

Sejak menikah, Puti langsung dibawa merantau oleh suaminya ke Manado. Suaminya berdagang kedai nasi di sana. Sejak Corona, usaha mereka bangkrut. Tak ada lagi yang bisa dimakan. Sejak lima belas hari lalu, ia pulang kampung. Begitu tiba, ia dan suaminya dinyatakan terpapar Corona. Untung tiga anak-anaknya selamat, tak tercemar oleh virus itu.Anak-anaknya kini diisolasi di rumah orangtua Puti.

Telepon tersambung tanpa suara itu, memang lama diam atau hening. Di seberang sana, Jambri tercekat ketika Puti bertitip salam untuk anak dan istrinya.

“Puti…” di balik gagang telepon di seberang sana, Puti masih terhening.

“Puti….”, agak keras sedikit Jambri berkata.

“ Ya, Jambri….”

“ Saya hingga kini masih sendiri….!”

Hanya itu yang mampu disampaikan oleh Jambri. Puti mengatur intonasi suaranya supaya tidak ada terbaca oleh Jambri getar kekagetan dirinya. Ia ingin nadanya mengilaskan bahwa itu biasa. Padahal, sehebat apapun Puti menyembunyikan suara hati, Jambri tetap tahu bahwa Puti masih menyimpan cinta padanya.

“ Oh…maaf. Saya doakan, kamu lekas bertemu dengan perempuan yang tepat !”

Ha, perempuan yang tepat? Tidakkah Puti tahu, kalau perempuan yang tepat di hati Jambri hanyalah Puti seorang?

Tapi, ia surukkan getar suara di hatinya. Mereka sama berupaya bersembunyi dari cinta yang benar.

“ Terimakasih, doanya Puti….”

Keadaan mencair, lalu mereka beralih topik.

“Saya dengar, Jambri jadi calon gubernur.Apa itu benar?”

“Benar Puti.saya minta dukunganmu…!”

“Bukankah sejak dulu saya selalu mendukungmu ! “
Puti dan Jambri sama-sama tertawa kecil.

“Tapi…Jambri….”

“Ya, tapi apa?”

“Tapi..saya menyarankan, Jambri tak usah maju jadi calon Gubernur…..”

“Mengapa?”
Ditanya Jambri, Puti diam.

“Mengapa?” suara Jambri lebih tinggi lagi.

Tampak Puti mengambil nafas dalam dalam. Ia harus kuat untuk mengatakan ini dan berupaya memilih bahasa yang ia anggap tepat.
“Mengapa?” sekali lagi Jambri bertanya dengan suara tinggi yang agak emosional.

“ Saya tidak mau nanti kamu disalah-salahkan lagi di negeri sendiri !”

Prak…!
Jambri langsung memutus teleponnya. Di ujung sana, daya imun tubuh Puti langsung turun drastis sekali. Airmatanya jatuh , mungkin saja digerogoti oleh virus-virus Corona yang membalut tubuhnya. Ia lemas.

Beberapa hari kemudian, pada suatu malam, Jambri menyaksikan acara talkshow Najwa Shihab yang sedang memawancarai Presiden Jokowi (11). Mendengar satu topik soal pulang kampung dan mudik (12), Jambri terpekik. Ia berseru girang dalam hati.

Saya dapat ide…ya saya dapat ide, girang hatinya tak terperi. Ia melonjak-lonjak kegirangan. “ Saya pasti menang, kalau ide ini saya laksanakan!” suara hatinya bahagia dalam mimpi indahnya menjadi Gubernur Sumbar.

Pulang kampung tidak dilarang yang dilarang adalah mudik. Kalau begitu, saya akan memulangkampungkan semua orang Minangkabau yang ada di Jakarta yang mata pencahariannya sudah tertutup.Hidupnya sudah bangkrut.

Ini, brending.Ini brending…! Berkali-kali ia bersorak dalam hati.

Esok paginya, ia kumpulkan semua stafnya. Dengan gerakan cepat, ia siapkan puluhan bus yang segera siap membawa orang Minang untuk pulang kampung. Ribuan orang mendaftar. Seratus lebih bus telah disiapkan Jambri. Tak memakan waktu lama, Jambri berhasil membawa ribuan orang Minangkabau yang hidup di Jakarta untuk pulang kampung. Atas keputusan jambri itu, rata-rata semua anak buah Jambri memuji sikap mulia bosnya ini.

“Hebat itu Pak. Itu tanda Bapak orang mulia”
“Bagus Pak, orang rantau yang bapak pulangkan ini nanti akan menyuruh seluruh saudaranya untuk memilih bapak….!”

“Pak Jambri bos kita memang top!”

“Pak Jambri terbukti memberi fakta bukan janji!”

Semua anak-anak buahnya memujinya. Termasuk tim suksesnya, juga tak tanggung-tanggung ikut-ikutan memuji.

Yang paling gembira menerima ide ini adalah Mardambin.

“ Saya bisa membantu Bapak menghubungi Bus NPM,ANS dan bus-bus travel wisata…Menghubungi bus untuk dicarter itu kehalian saya itu Pak…biar program Bapak lekas terlaksana….”, kata Mardambin penuh semangat.

Ia bersemangat, kalau diberi wewenang untuk menghubungi bus. Betapa tidak, ia sudah membayangkan komisi yang akan ia dapatkan dari beberapa perusahaan bus yang akan disewa. Tapia pa daya, semangatnya langsung patah ketika Jambri mengatakan bahwa soal bus sudah disiapkan oleh tim di Jakarta. Tugas Mardambin adalah menyiapkan para penari Gelombang *—seperti yang pernah dilakukan pemerintah propinsi dulu dalam menyambut turis dari China yang berwisata ke Sumatera Barat(13)— untuk menyambut kedatangan para perantau.

“Baik Pak…saya akan hubungi sebuah sanggar tari terkenal.Memang agak mahal bayarannya Pak. Tapi, tariannya bagus….!”

Yang terbayang oleh Mardambin adalah komisi dari sanggar tari.
Begitulah…

Biasanya Jambri tak mengikuti perkembangan berita media online.Tak membaca surat kabar.Menonton televisi pun ia hanya sekali-sekali. Namun sejak ia mencalonkan diri menjadi calon Gubernur Sumbar ia sibuk menonton televisi dan sengaja mengikuti kabar-kabar di media online.

“Calon Gubernur Sumbar Jambri Datuk Kebenaran Segera Pulangkampungkan Ribuan Perantau Minang di Jakarta”.

Begitu bunyi berita di media online dan televisi.

Nama Jambri langsung melangit.Langsung tenar. Langsung jadi topik utama berita. Jambri menjadi trending topik di mana-mana.

Kesimpulannya, niat baik Jambri dipersalahkan banyak orang se Sumatera Barat. Ia dihujat habis-habisan.Dimaki tak karuan.

Berita yang paling menyakitkan Jambri adalah: “ Tolak Jambri jadi Calon Gubernur !”

Bahkan ada pula beberapa netijen yang menulis dan mendesak pihak aparat untuk menangkap Jambri.
Di mana-mana suara menggema.
Tolak Jambri. Tangkap Jambri!

“ Kalau aparat tak mau menangkap Jambri, saya sebagai tokoh masyarakat akan bergerak bersama-sama untuk menangkap Jambri kalau ia pulang kampung”, seorang tokoh masyarakat bicara keras dan pedas di telivisi. Malangnya, Jambri juga sedang menonton.

Maksud mulia Jambri dianggap buruk dan salah oleh orang kampungnya sendiri. Membawa pulang orang kampung, dianggap orang-orang sama dengan membawa peluang virus corona untuk lebih berkembang di ranah Minang.
Bibir Jambri pucat. Imun tubuhnya drastis turun. Ia lemas. Ia jatuh pingsan. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Langsung diruang-isolasikan. Esok ketika ia sadar, orang pertama yang ia hubungi adalah Puti.

Berkali-kali ia menelpon. Ada nada sambungan, tapi mengapa tak ada jawaban. Ia coba sekali lagi untuk mengulang menelpon kembali.

Suara anak kecil menjawab: “ Halo, ini siapa?”

“Saya Jambri. Teman Ibu Puti….”

“Om..mama sudah meninggal. Kemarin baru dikuburkan, Om!” kemudian yang terdengar oleh Jambri adalah suara isak tangis anak kecil.

Ops. Rasa mau putus jantung Jambri mendengarnya.

Kini Ia hanya ingin berniat sehat. Kalau ia sudah sehat nanti, ia akan pulang ke kampung halaman. Tapi tidak menjadi calon Gubernur, karena ia tak ingin dipersalahkan lagi. Ia ingin pulang hanya sebagai kekasih yang hendak mengalungkan bunga di nisan Puti nan di hati!

Bukittinggi 25 April 2020 (Artikel yang sama tayang di jarrakpospadang.com)

Catatan Kaki :
*Etek = panggilan untuk saudara perempuan ibu.
1) James Earl Carter, Jr. (lahir di Plains, Georgia, 1 Oktober 1924; umur 95 tahun) atau dikenal Jimmy Carter adalah Presiden Amerika Serikat ke-39 (1977 – 1981) dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 2002. Sebelum menjadi presiden, Carter selama dua periode menjabat Senat Georgia dan Gubernur Georgia yang ke-76 (1971 – 1975). Sumber Wikipedia bahasa Indonesia.
*Uda=abang=panggilan untuk lelaki lebih yang lebih tua/saudara kita.
*Surau=langgar/tempat ibadah/solat dan mengaji
*Amak=ibu
*Rancak=bagus
*Malakok= malakok di Minang Kabau adalah proses bergabungnya seseorang dengan adat Minang Kabau, Sehingga orang tersebut bisa disebut orang Minang bagi yang berasal dari suku diluar minang
*Dunsanak=saudara sedarah
*Mamak=saudara laki-laki pihak ibu
*Ranji= Pada suatu kaum dalam struktur masyarakat adat Minangkabau, keturunan berdasarkan garis kekerabatan dicatat dalam ranji kaum. Untuk memastikan garis kekerabatan dan menjaga harta kaum, ranji kaum sangat penting.Termasuk juga soal pewarisan gelar datuk.
*Membangkik Batang Tarandam= Bahasa Indonesia: Membangkit batang/pohon yang terendam. Arti: Membangkitkan kembali marwah/kehormatan yang telah lama terpendam/terabaikan karena suatu keadaan.
*Dilewakan=dikukuhkan dalam sebuah prosesi adat.
2) Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua orang di Indonesia yang positif terjangkit virus corona. di Istana Kepresidenan, Senin (2/3/2020). Kompas.com
3) Denny JA Denny Januar Ali, atau biasa disapa Denny JA (lahir di Palembang, Sumatra Selatan, 4 Januari 1963; umur 57 tahun) adalah seorang konsultan politik dan tokoh media sosial. Dia aktif di media sosial dan aktif menulis dengan tema seputar sosial dan politik di Indonesia.Denny JA mendirikan banyak lembaga survei dan perusahaan konsultan politik. Pada tahun 2014, ia dianugerahi oleh Twitter Inc sebagai The World’s No 2 Golden Tweet 2014, dan No 1 di Indonesia. MURI memberinya penghargaan sebagai konsultan politik di dunia pertama yang membantu memenangkan pemilihan presiden tiga kali berturut-turut, yakni pada pemilihan umum tahun 2004, 2009, dan 2014. (Wikipedia)
4) Tim delapan (tim penyair, kritikus dan akademisi) mengikutkan nama Denny JA dalam sebuah daftar yang berisi tokoh-tokoh sastra yang berpengaruh di Indonesia bernama ’33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia’. (Wikipedia)
5) Rumah Sakit DR Achmad Mochtar (RSAM) adalah rumah sakit milik Pemerintah Propinsi Sumbar dan berlokasi di kota Bukittinggi.
6) Jumlah pasien positif terjangkit virus corona (covid-19) di Sumatra Barat (Sumbar) kembali bertambah satu orang lagi. Dengan begitu, jumlah warga Sumbar yang positif corona hingga Kamis (2/4/2020) menjadi 13 orang.Pasien yang ke 13 itu dirawat di RSAM Bukittinggi. Dia dinyatakan positif dari hasil uji sampel di laboratorium Universitas Andalas Padang keluar pada Rabu (1/4/2020) malam.(Langgam.id)
7) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatra Barat (Sumbar) menunggu keputusan KPU RI soal penundaan pelaksanaan Pilkada serentak 2020. Penundaan terjadi akibat wabah virus corona (covid-19) yang sedang terjadi di banyak wilayah Indonesia. (Langgam.id)
8) Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, di kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah dan juga menjadi salah satu objek wisata andalan provinsi. (Wikipedia)
*Pitih=uang
9) Jadwal pemberlakuan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) telah ditetapkan. PSBB diberlakukan untuk mencegah perluasan infeksi virus corona di daerah ini. Gubernur Sumbar Irwan Prayito menyatakan PSBB akan berlaku di wilayah 19 kabupaten/kota di provinsi ini mulai tanggal 22 April hingga 5 Mei 2020. (Tirto.id)
10) Kasus positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) di Sumatra Barat (Sumbar) terus bertambah. Hari ini, Jumat (24/4/2020) sebanyak 10 warga Sumbar dinyatakan positif Covid-19, 6 orang di antaranya dari Kota Padang. “Kalau kemarin pertambahan 5 orang, maka hari ini terjadi penambahan kasus positif sebanyak 10 orang lagi. Dengan demikian total yang positif di Sumbar adalah 96 orang,” Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Sumbar, Jasman RizalJumat (24/4/2020). (Langgam.id)
11) Serunya acara Talkshow Mata Najwa tadi malam, Rabu (22/4/2020) hingga Trending Topic di Twiter.Penggalan Video Presiden Jokowi saat jadi narasumber tunggal dalam edisi khusus tema ‘Jokowi Diuji Pandemi’ viral karena menyebut pulang kampung dan mudik adalah hal yang berbeda.( TRIBUN-TIMUR.COM )

12)Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Dini Purwono menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang membedakan antara mudik dan pulang kampung. Menurut Dini, terdapat perbedaan makna dalam kedua istilah tersebut. Ia mengatakan, mudik yang dimaksud Presiden ialah tradisi bertemu keluarga di kampung. “(Mudik) Sifatnya sementara (liburan) dan akan kembali lagi ke Jabodetabek. Sedangkan pulang kampung adalah kembali ke kampung secara permanen karena kehilangan pekerjaan di Jabodetabek,” kata Dini kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2020). (Kompas.Com)
*Tari Galombang merupakan salah satu tarian tradisional Minangkabau di Sumatera Barat. Satu di antara seni tari tradisi dalam upacara adat Minangkabau yang berkembang merata, hampir dimiliki setiap nagari.Secara umum, Galombang difungsikan untuk menyambut tamu yang dihormati. Namun dalam prakteknya, tarian ini lebih banyak muncul dalam upacara pernikahan Minang. Disajikan untuk menyambut mempelai saat diarak menuju pelaminan.

PROFIL PINTO JANIR
Nama aslinya Friheddapinta. Nama Pinto Janir adalah nama pemberian salah seorang Redaktur di Harian Semangat Roesli Syahriddin ketika kelas satu SMP Pinto menjadi wartawan cilik di Harian yang pernah dipimpin Sastrawan AA.Navis. Pinto menjadi wartawan di surat kabar ini sampai kelas 3 SMA. Saat itu cerpen dan puisinya sering dimuat di beberapa surat kabar lokal. Tamat SMA, Pinto pindah ke Suratkabar Mingguan Canang. Di Koran ini ia diangkat menjadi redaktur paling muda sampai dipercayakan menjadi Pemimpin Redaksi Canang. Menurut Novelis Makmur Hendrik, Pinto adalah penulis cerita bersambung paling lama di Suratkabar. Serial “Topan” yang ia tulis di Canang terbit selama 12 tahun tak putus-putus. Cerpen dan puisinya nya tersebar di beberapa media. Kumpulan puisinya antara lain Rakyat Susah,Susah Benar Jadi Rakyat, Keparat Berlagak Malaikat dan Negeri Sarang Pelawak. Pinto pernah memimpin beberapa surat kabar.Dan ia adalah salah seorang pendiri stasiun TV swasta pertama di Sumbar. Ia dianggap sebagai penyair pionir puisi musik. Julukannya Raja Penyair (Wikipedia) . Selain menjadi wartawan, penulis cerpen dan cerber, penyair, Pinto juga pencipta lagu dan penyanyi serta pelukis dan seniman taman batu artifisial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

//graizoah.com/afu.php?zoneid=3567752