Sun. Sep 27th, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

Kami Butuh e-KTP, Bukan Suket!

2 min read

Disdukcapil Kota Bandarlampung mengaku kehabisan blanko e-KTP. Bahkan ada warga yang sudah tiga tahun rekaman belum juga dapat e-KTP. Setiap datang ke Disdukcapil dibuatkan Suket. (foto ilustrasi)

Alasan Blanko Habis
Empat Kali Dibuatkan Suket

JARRAKPOSLAMPUNG – Blanko habis! menjadi jurus jitu bagi pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bandarlampung, untuk menjawab pertanyaan wartawan terkait lambatnya cetak e-KTP.

Dari penelusuran jarrakposlampung.com tidak sedikit masyarakat mengeluhkan hal tersebut. Bahkan ada masyarakat yang mengaku jika sudah melakukan perekaman sejak tiga tahun yang lalu, namun hingga saat ini belum juga mendapatlkan e-KTP.

“Saya sudah lima kali bolak-balik Disdukcapil tapi selalu saja ada alasan, mulai dari listrik mati sampai terahir alasan blanko habis,” kata warga Billabongjaya yang enggan namanya di publikasi ini, Senin (18/11/2019).

Padahal, lanjutnya, dirinya sudah beberapa kali meninggalkan nomor telepon dan pegawai bagian pengecekan pun sudah berjanji akan menghubungi melalui nomor telepon jika e-KTPnya sudah jadi.

“Tapi saya tidak pernah ditelpon. Mestinya e-KTP saya sudah dicetak, kok setiap saya datang kesini selalu belum ada. Terahir alasannya belanko habis. Waktu ada belanko kenapa tidak dicetak? Saya sudah berkali-kali diberi Surat Keterangan (Suket). Saya butuh KTP, bukan suket,” ketus wanita berhijab ini.

Kadis Sibuk Perbanyak Alat Rekam

Ditengah teriakan warga tersebut, Kadisdukcapil Kota Bandarlampung, Ahmad Zainudin justru sedang menggalakkan penyebaran perangkat rekam e-KTP hingga ke kantor kecamatan. Harapannya untuk mempermudah perekeman e-KTP.

“Warga nggak perlu berdesakan lagi di Kantor Disdukcapil Pemkot Bandarlampung untuk mengurusnya, cukup datang untuk merekam datanya di kantor kecamatan wilayah tinggal masing-masing,” kata Zainudin, Senin (18/11/2019).

Dijelaskan Zainudin, pengadaan alat tersebut menggunakan dana APBD 2019. Alat tersebut, kata dia, persis seperti alat yang pernah diberikan Dirjen Disdukcapil 2011 bagi 13 kecamatan 98 kelurahan dahulu, sebelum pengembangan wilayah Bandar Lampung menjadi 20 kecamatan dan 126 kelurahan.

“Jadi, penyaluran alat perekaman e-KTP ke kecamatan sudah dilakukan hari ini (kemarin). Peralatannya seperti alat rekam mata, sidik jari, komputer, e-signature dan pelengkap lainnya,” jelasnya.


Meskipun seluruh kecamatan sudah bisa melakukan perekaman, lanjutnya, bagi masyarakat yang melakukan perekaman di Kantor Disdukcapil Pemkot Bandar Lampung, masih tetap dilayani dengan empat alat perekaman.


“Saat ini seluruh kecamatan sudah bisa melakukan perekaman, sehingga warga Kota Bandar Lampung tidak perlu lagi ke Disdukcapil karena untuk perekaman bisa dilakukan di kecamatan masing-masing, tapi kita (Disdukcapil) tetap melayani jika ada masyarakat yang datang,” ujarnya.

Dikatakan Zainudin bahwa sebelumnya alat rekam e-KTP hanya terdapat di 13 kecamatan, di mana 10 kecamatan berfungsi melakukan perekaman, sedangkan tiga alat di tiga kecamatan diketahui rusak sehingga tidak dapat digunakan.

“Jadi seluruh alat yang lama ditarik dan dikembalikan ke Kemendagri dan diganti yang baru oleh Pemkot Bandar Lampung,” terangnya.

Zainudin menegaskan, hal ini merupakan upaya Wali Kota Bandarlampung, Herman HN, untuk memberikan pelayanan dan mempermudah masyarakat yang ingin melakukan perekaman e-KTP.

Ia kembali menjelaskan, masyarakat yang melakukan perekaman di kecamatan nantinya akan diberikan bukti bahwa sudah melakukan perkeman. Selanjutnya, untuk pencetakan e-KTP bisa langsung ke Disdukcapil.

“Setelah perekaman, masyarakat akan diberi bukti perekaman dan datang langsung ke Disdukcapil atau camat juga dapat mengkoordinir langsung. Bila blanko e-KTP tersedia, maka dapat diselesaikan dengan kurung waktu satu hingga satu setengah jam. Proses pembuatan e-KTP dan pelayanan lainnya semua gratis,” pungkasnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

loading...

You may have missed