Wed. Sep 23rd, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

Kritik Atas Klaim Kebenaran FPI

2 min read

Oleh :

Dr. KH. ABDUL SYUKUR, M.Ag
Wakil Ketua PWNU Lampung

MENGAPA harus ada aksi demo dengan melibatkan masa dalam jumlah besar, yang di motori sejumlah tokoh Organisasi Masyarakat (Ormas) Fron Pembela Islam (FPI) beberapa tahun belakangan ini?

Apa urgensinya? apakah negara sedang dalam keadaan darurat, sehingga membutuhkan bantuan dalam penegakan hukum, keamanan dan hal yang berkaitan dengan kerukunan antar umat beragama?

Saya rasa tidak! Negara dalam keadaan baik-baik saja. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Bahwa masih ada kekurangan, iya. Akan tetapi bukan berarti siapapun bisa ikut campur dalam sistem negara, atau memanfaatkan kekurangan itu untuk menekan negara dengan kekuatan masa.

Kritik tentu saja boleh. Kendati demikian, kritik ada tatacaranya. Kritik dengan mengganggu ketertiban umum kemudian mengklaim super damai, tentu bukan sebuah cara yang elegan.

Negara sudah ada yang mengatur. Misal urusan negara di bidang hukum, seperti persoalan penistaan agama, ada proses hukumnya, ada lembaga peradilan, ada polisi, ada jaksa, ada hakim. Biarlah pemerintah yang punya kewenangan di bidang hukum yang memutuskan perkara itu.

Anehnya, kenapa FPI ngotot, merasa punya kewenangan. Tentu dalam pandangan hukum negara, atau fiqih siyasah, sikap FPI tersebut sangat tidak tepat. Bagaimana misalnya Reuni 212 di klaim oleh FPI sebagai wadah pemersatu umat? Justru menurut saya semakin menyadarkan umat yang mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini untuk tidak ikut-ikutan FPI dan reuninya.

Begitu pun dalam hal keamanan negara. Semua sudah ada yang mengurus, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri). Kecuali aparat keamanan minta bantuan warga masyarakat, atau Ormas. Tentu siapapun yang diminta, ya perlu siap membantu.

Berbeda dengan kewajiban menjaga keamanan yang tentu menjadi tugas setiap warga negara. Hal tersebut agar terciptanya rasa aman bagi seluruh elemen masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga desa atau kelurahan aman, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan seterusnya.

Begitu pun dalam hal kebutuhan akan rasa aman. Dipastikan setiap individu membutuhkan rasa nyaman, rukun, damai, bersatu, ukhuwah, mashlahah, berkah, dan salamah. Ya, harus dimulai dari individu masing-masing. Mulai dari pribadi, rumah tangga, lingkungan kerja hingga lingkungan pergaulan sampai linglingkungan organisasi.

Karenanya, ayo kita amalkan kebaikan dengan istiqamah, agar suatu saat malaikat Izrail menjemput kita dalam keadaan husnul khatimah. Yu kita jauhkan dari segala tindakan jahat, buruk, mudharat, mafsadat agar suatu saat Allah memanggil kita dijauhkan dari su’ul khatimah. Aamiin.

Wallahulmuwafieq Ila Aqwa Mitharieq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *