Tue. Sep 22nd, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

NAMA HASRIL CANIAGO BAK METEOR

2 min read

Zulfa Basir

Balapatti.com – Dipandang dari sisi manapun pernyataan Hasril Caniago (HC) di acara ILC TVONE Selasa malam 8 Sept 2020, membawa korban dan risiko. Kalau Tuhan berkehendak ya jadilah.

Hanya dengan menyebut Bakhtaruddin, kakek Arteria Dahlan (AD), adalah “Pendiri PKI di Sumbar” nama HC sontak melambung jadi terkenal. Bak meteor saja. Secepat kilat.

Akankah perkataan HC gegabah? Bisa. Akankah perkataan HC membuka aib orang? Bisa.

Yang pasti HC sudah mencuri mumen. Kapan lagi kalau bukan sekarang.
Biar diundang lagi di ILC. Ibarat Menumpang biduk ke hilir. Enak, cepat tiba dan gratis pula.
Dia seperti tidak bersalah dengan statemen nya itu.

Sementara AD, juga orang minang, adalah seorang politisi yg lagi naik daun. Saat mendengar pernyataan HC itu, AD anehnya justru tidak marah, malah menganggukan anggukan kepalanya dan senyum pula. Dibenak saya, apakah mereka berdua sasurau (satu guru) atau sapacokian (sama2 satu ceki)?

Logikanya dia counter secara spontan ucapan HC itu. Lidah AD yang selama ini tajam di forum ILC, Selasa malam itu seperti kelu. Gayanya lembut memuji orang minang hebat (mungkin karena berada dilingkungan tokoh minang).

Acara ILC hari itu menghadirkan sejumlah tokoh Sumbar untuk mengomentari kata pahit Puan Maharani, Ketua DPRRI tentang doa tersiratnya yang mengundang kemarahan warga minang dimana mana.

Mungkin ini hikmah dari ucapan sang Uni Puan. Nama HC viral namun AD meradang. Di kalangan orang minang, statemen HC disambut jempol karena dapat info hangat dan dilalahnya politisi AD kurang membumi dihati masyarakat minang. Karir AD sedang berada di puncak gunung diterpa angin kencang.

Tapi sepak terjang HC perlu pula dipertimbangkan dan dicerna dengan baik dan lapang dada. Boleh juga di catat karena ia bukan sembarang orang. Ia seorang budayawan dan wartawan senior pula yg katanya ingin meluruskan sejarah. Seperti contoh, Ia kemukakan bahwa Pemberontakan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) 1958 itu tidak menjatuhkan negara dan Sukarno tapi menurunkan pemerintahan Ali Sastro Amidjoyo yang waktu itu menjadi Perdana Mentri. Seperti seorang politisi komentarnya.

Lalu AD heboh balik di viral hari berikutnya. Ia merasa dirugikan. Bak kata lagu minang populer AD takicuah di nan tarang (tertipu ditempat terang bukan ditempat gelap). Apa lacur nasi sudah jadi bubur.

Inilah risiko dari
Zaman buka bukaan. Perlukah AD melakukan flash back?.
Introspeksi?
Tergantung diri beliau. AD politisi yang memiliki suara tajam setajam silet ke lawan politiknya. Bahkan ia tidak segan-segan sedikitpun mempertahankan argumennya sekalipun berhadapan dengan senior yang disegani dan sudah teruji kemampuannya puluhan tahun.
Ingat
Hantaman kata-kata AD ke ekonom senior Prof. Dr. Emil Salim di sebuah acaraTV nasional suatu hari telah menyayat hati orang banyak.
Terutama masyarakat minang yg sarat dengan adat istiadat.
Apakah ini dosa AD.
Bisa, ia menuai yang sudah ia tanam. Ibarat rizki datang dari segala arah, bangat juga kerugian juga datang dari berbagai penjuru. Mungkin ini cara Tuhan mengemasnya.

(ELW”89,YL99)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *