November 30, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

Astaga! Orang Ini Susun Skenario Batalkan Pelantikan Presiden

2 min read
Dosen nonaktif Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith.

JARRAKPOSLAMPUNG – Skenario untuk menggagalkan Pelantikan Presiden Jokowi sudah direncanakan secara matang oleh Dosen nonaktif Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith.

Meski gagal, skenario yang akan diawali dengan aksi peledakan bom rakitan saat aksi Mujahid 212 di kawasan Istana Negara pada 28 September 2019 dengan tujuan untuk menggagalkan pelantikan presiden terpilih pemilu 2019 Jokowi-Amin tersebut telah terencana dengan matang.

Menurut polisi, aksi peledakan itu direncanakan setelah kegagalan aksi peledakan saat kerusuhan di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat pada 24 September 2019, malamnya Abdul Basith kembali menggelar pertemuan di rumah tersangka SO di kawasan Tangerang dengan dihadiri oleh tersangka SO, SN, DMR, JA, dan AK.

Dalam pertemuan tersebut dibagi peran siapa pembuat bom rakitan hingga eksekutor saat aksi Mujahid 212.

“Dievaluasi ternyata kurang maksimal kegiatan (peledakan) untuk mendompleng membuat chaos  (kerusuhan) tanggal 24 September. Makanya tanggal 24 (September) malam, diadakan rapat permufakatan merencanakan untuk berbuat kejahatan berupa membuat chaos(kerusuhan) dengan mendompleng aksi tanggal 28 September (aksi Mujahid 212),” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jumat (18/10/2019).

Selanjutnya, pada 25 September, Laode S yang berperan mencari pembuat bom rakitan diperintahkan menghubungi Laode N dan Laode A yang tengah berada di Papua ssrta pembuat bom lainnya yang berinisial JH yang berada di Bogor.

Argo mengungkapkan, Abdul Basith kemudian memberikan uang senilai Rp 8 juta kepada Laode S sebagai ongkos Laode N dan Laode A menuju Jakarta.

“Dia (Abdul Basith) juga memberi uang kepada SO senilai Rp 1 juta untuk membeli bahan-bahan (bom rakitan),” ujar Argo.

Pada 26 September, Laode N dan Laode A tiba di Jakarta dan langsung menuju kediaman Abdul Basith di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Kemudian pada 27 September, diadakan pertemuan kembali di rumah SO dan dihadiri oleh Abdul Basith, SO, YD, serta Laode S.

Usai pertemuan, polisi langsung mengamankan para tersangka dan menemukan barang bukti berupa 28 bom rakitan menggunakan bahan peledak merica, paku, dan deterjen.

“Kita akan melakukan rekonstruksi sehingga bisa tahu saat permufakatan jahat oleh AB, membahas apa. Kita akan rekonstruksi sesuai apa yang disampaikan (tersangka) dan berita acara pemeriksaan (BAP),” jelas Argo.

Saat ini, para tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya. Mereka dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan atau Pasal 169 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 KUHP Jo pasal 56 KUHP.

Abdul Basith awalnya ditangkap terkait perencanaan peledakan saat aksi Mujahid 212.

Namun berdasarkan hasil penyelidikan, ia diduga terlibat dalam peledakan menggunakan bom molotov saat aksi unjuk rasa di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

loading...

You may have missed