Tue. Oct 20th, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

OTG Bahaya di Balik Tirai

2 min read

SEBENARNYA saya ingin menuliskan bahwa orang tanpa gejala (OTG) tetapi positif terinfeksi covid-19 adalah musuh dalam selimut.

Kemudian, saya membuang jauh-jauh pikiran itu, dan saya perhalus dengan kata “Bahaya Dibalik Tirai” agar terkesan dramatis.

Ironis, memang ditengah ketakutan masyarakat akan bahaya virus yang mematikan itu. Pemerintah cendrung menyepelekan dengan tanpa mengambil langkah kongkrit. Tentu langkah kongkrit dalam ikhtiyar memutus mata rantai penularan Covid-19, tidak hanya lockdown atau karantina wilayah.

Masih banyak cara lain. Misalnya dengan melakukan rapid test secara masal sebagaimana di Jawa Barat, atau mempertimbangkan usulan GP Ansor terkait karantina satu minggu setiap pendatang, kemudian lakukan rapid test.

Pemerintah, melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto jelas mengatakan, jika pemerintah melihat penularan dan sebaran kasus ke beberapa daerah di Indonesia karena adanya pergerakan OTG yang melakukan mobilisasi ke berbagai wilayah.

OTG positif adalah orang yang sistem imun tubuhnya kuat, sehingga virus mampu ditekan dan memengaruhi tubuh, tapi tetap bisa menularkan kepada orang lain. Efeknya bakal lebih berbahaya jika menginfeksi orang dengan sistem imun lemah misalnya memiliki penyakit jantung, diabetes, ginjal, gangguan pernapasan kronis, hingga hipertensi.

Orang-orang positif tanpa gejala ini berasal dari daerah yang memiliki kasus positif tertinggi. Mereka lalu melakukan perjalanan ke luar kota dan menulari orang di daerah yang ia datangi.

Oleh karena itu, solusi terbaik adalah tetap melakukan physical distancing atau jaga jarak fisik paling pendek 2 meter, untuk mengurangi risiko penularan. Atau yang terbaik adalah tetap berdiam diri dan melakukan aktivitas fisik di dalam rumah.

Pertanyaannya, sampai kapan kita akan melakukan physical distancing, dan seberapa kuat kita tidak berinteraksi dengan orang-orang terdekat kita?

Sebentar lagi Ramadhan tiba, mereka yang ada di perantauan tidak mungkin kuat menahan untuk tidak mudik. Kalau pun ada, mungkin sebagian lecil saja.

Pemerintah di setiap daerah sudah berlomba-lomba merasionalisasi anggaran dan mengalokasikan dana yang cukup besar untuk musibah ini. Lalu, akankah dana itu habis hanya untuk kerja yang sia-sia?

Ya, saya kesulitan mencari kosa kata lain selain kata sia-sia untuk kerja yang menurut saya bak menabur garam di lautan. Jelas, Covid-19 adalah prihal abstak, ditambah OTG yang bisa kemana saja.

Kita tidak sedang bergurau dengan musibah ini. Langkah kongkrit, epektif dan efisien bukanlah barang mewah dan sulit untuk diwujudkan. Mereka yang diatas sana adalah orang pilihan yang jauh lebih cerdas.

Jangan lagi kami dipertontonkan dengan kekonyolan! cukup wacana gila pembebasan napi yang sebenarnya lebih aman di dalam kemudian dikeluarkan itu, jadi yang terahir dari drama aji mumpung.

Wassalam.

(Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

loading...

You may have missed