Sat. Sep 26th, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

PARADOK KEBERAGAMAAN

2 min read

Ichwan Adji Wibowo
Ketua PCNU Kota Bandarlampung

TEPAT pukul 24.00 nanti malam, 24 April 2020, pintu akses keluar zona merah ditutup untuk orang orang yang hendak mudik, tapi jeda waktu dari diumumkan hingga dimulainya penutupan itu, konon orang menyegerakan berbondong bondong meninggalkan kota PSBB tersebut, jadi bumi Lampung diperkirakan sore hingga malam ini ketambahan warga baru dari Jakarta dan sekitarnya.

belum lagi dari beberapa minggu yang lalu saban hari terus mengalir orang orang yang terdampak pandemi di perkotaan akhirnya memilih kembali ke kampung halamannya.

Mereka mereka yang datang itu tidak semuanya melapor ke pamong, pun yang melapor juga tidak seluruhnya punya ketaatan untuk secara disiplin mengkarantina diri selama 14 hari, dan begitulah faktanya..

Pandemi global covid 19 ini bukanlah cerita fiksi, bukan dongeng di siang bolong, bukan juga informasi rekaan yang sering diprasangkai sebagai berlebihan dan dimaksudkan untuk menakut nakuti bangsa sendiri. Ini fakta, ini pandemi global, negeri negeri besarpun dibuat kalang kabut.

Sudah banyak dokter gugur, harus wafat meninggalkan keluarga dan dikebumikan dengan prosedur yang memilukan, beberapa perawat dan tenaga medis lain yang juga telah gugur. selebihnya kita patut hormat dan berterima kasih, karena masih banyak tenaga medis yang terus istikomah dalam tugas, berjibaku di garda terdepan.

Di Kota yang kita cintai ini kita juga sama ketahui trend angka pasien positif terus bertambah, sebagaimna rilis dari data gugus tugas covid 19 Pemprov Lampung. Kita dikepung daerah PSBB, Jabodetabek sudah OSBB, menyusul segera Palembang, kita berharap Lampung tidak sampai PSBB.

Saya punya adik kandung berprofesi sebagai tenaga medis di zona merah, dan seorang keponakan yang hari hari bertugas di laboratorium rumah sakit, saya juga dekat dan intens berkoordinasi dengan jajaran tenaga medis di level layanan paling bawah di puskesmas. Saya sangat sering mendengar curhat kepiluan bathin mereka di tengah kewajiban tugas peofesi. Ya merekalah prajurit yang paling beresiko di garda terdeolpan pada peperangan tak berbentuk ini, musuh yang tak nampak secara kasat mata.

Sementara agama sesungguhnya dihadirkan Tuhan juga salah satunya untuk tujuan memuliakan kemanusiaan, memastikan derajat kesehatan personal, keluarga dan masyarakat adalah juga tugas keberagamaan kita.

Maka di tengah pandemi global ini tentu eksistensi agama terutama islam justru diuji untuk mampu memberi solusi, dan hari ini kita memasuki romadhan 1441 H, dimna di bulan ini kegiatan ritual keagamaan akan semakin semarak.

Kita berharap peningkatan aktifitas ritual keagamaan juga dibarengi dengan spiritualitas keagamaan, setidaknya agama hendaknya mampu memimpin dan bisa bersinergi mengatasi persoalan kemanusian.

Belakangan kita masih menjumpai para penceramah menggunakan mimbar dakwahnya justru mrnampilkan model keberagamaan yang sarat peasangka dan kontraproduktif dengan kemanusiaan. Mereka lantang mencibir model penyikapan para ulama dan pemerintah dalam berperang melawan pandemi global.

Fiqh juga dihadirkan salah satunya untuk menjawab problem model dan tara cara ritual keagamaan dalam segala situasi dan keadaan, fiqh harus mampu menjawab segala tantangan.

Bukankah muara atau tujuan fiqh adalah maslahat?

Bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *