Mon. Sep 28th, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

Sang Motivator Itu Berpulang

2 min read

JARRAKPOSLAMPUNG – Duka yang mendalam kembali menerpa Umat Islam Indonesia, terlebih warga Nahdlatul Ulama (NU). Bagaimana tidak, belum saja genap sepekan setelah kepergian KH Salahudin Wahid (Gus Solah), Kamis (06/02/2020) dini hari, tokoh senior NU, KH Ahmad Bagja kembali keharibaan Allah SWT.

KH Ahmad Bagja adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 1977-1981, beliau tutup usia Kamis pukul 01.09 WIB di RS Jakarta Medical Center (JMC).

Bagi Nahdliyin Lampung, KH Ahmad Bagja bukan saja tokoh nasional yang inspiratif tetapi adalah seorang guru tauladan. Sebab, belum lama ini KH Ahmad Bagja kerap bolak balik Lampung-Jakarta demi memotivasi KBNU Lampung.

Almarhum dikenal sebagai sosok yang santun, mengayomi dan menginspirasi, terutama bagi generasi muda NU. Pribadinya rendah hati dan bisa diterima semua pihak.

Pernah menjabat sebagai Sekjen NU di era kepengurusan Gus Dur kedua pada 1989-1994, KH Ahmad Bagja juga dikenal sebagai kiai penggerak dan organisatoris.

“Kita kembali kehilangan senior yang sederhana lembut dan perhatian terhadap kader. Saya bersaksi beliau orang baik dan berakhlaqul karimah. Alfatehah,” tulis salah satu pengurus PWNU Lampung, Khaidir Bujung di status facebooknya.

Bagi penulis, Almarhum adalah sosok yang begitu inspiratif. Dalam sebuah kesempatan wawancara Almarhum pernah berpesan kepada penulis agar tidak meninggalkan dunia tulis menulis.

“Sejak kapan kamu jadi wartawan? Teruslah menulis. Menulis itu untuk keabadian,” kata Almarhum kala itu seraya menepuk bahu penulis.

Lahir di Kuningan Jawa Barat pada 1945, KH Ahmad Bagja yang juga tokoh sentral NU Kelompok Cipayung ini rencananya akan dimakamkan di Cipeujeuh Kulon, Lemah Abang Cirebon pada Kamis (06/02/2020) siang ini. 

Ditelpon Sang Kiai

Sekitar ahir tahun 2016. Penulis pernah ditelpon Almarhum. Tentu bukan lantaran ada keperluan terhadap penulis, melainkan ingin bicara dengan orang terdekat penulis kala itu. Kendati demikian, ada kalimat yang begitu menggetarkan hati sebelum sang motivator menutup teleponnya.

“Siapa namamu,” tanya Kiai Bagja begitu penulis biasa menyebutnya, setelah Kiai Bagja bercakap panjang dengan orang yang dikendakinya.

“Ari, Kiai. Lengkapnya Ariyadi Ahmad,” jawab penulis.

“Oh. Tetaplah menjadi kader yang loyal. Temani abangmu, kita saling mendoakan,” tutup Kiai Bagja.

Tak sepatah kata pun keluar lari mulut penulis kala itu. Entah mengapa lidah menjadi kelu, beberapa menit penulis terdiam tidak sadar jika tokoh nasional itu telah menutup teleponnya.

Selamat jalan Kiai Bagja. Kami selalu menemanimu dalam setiap doa kami. “Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu”. (ari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

loading...

You may have missed