Sat. Sep 26th, 2020

Balapatti

Media Pemersatu Nusantara

TNBBS Sedang Sakit?

3 min read
Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Semaka, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Siti Muksidah, S.Hut, M.Sc saat memaparkan makalahnya pada workshop bertajuk Kopi, Hutan dan Iklim yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung di Whiz Prime Hotel, Minggu (15/12/2019).

Dari Workshop Kopi, Hutan dan Iklim

JARRAKPOSLAMPUNG – Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Semaka, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Siti Muksidah, S.Hut, M.Sc menganalogikan pemulihan ekosistem di TNBBS saat ini ibarat sebuah proses penyembuhan dari sakit.

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Semaka, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Siti Muksidah, S.Hut, M.Sc saat memaparkan makalahnya pada workshop bertajuk Kopi, Hutan dan Iklim yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung di Whiz Prime Hotel, Minggu (15/12/2019).


Hal tersebut diungkapkan, Siti Muksidah pada workshop bertajuk Kopi, Hutan dan Iklim yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung di Whiz Prime Hotel, Minggu (15/12/2019).

Menurut Siti, sebagaimana mekanisme penyembuhan tentu ada beberapa tahapan yang dilakukan pihaknya, mulai dari mendiagnosa, menfkalisifikasikan jenis sakitnya, jenis penanganan dan seterusnya.

“Kami melalukan pengkajian tipe kerusakan, jenis kegiatan pemulihan ekosistem yang tepat, metode digunakan, resep, evaluasi kesembuhan,” kata dia.

Palam program pemuluhan ekosistem, lanjutnya, perlu di persiapkan terkait jenis tanaman yang ditanam, perlakuan penanaman, pemeliharaan, penjagaan, dan evaluasi dan penilaian keberhasilannya.

“Setelah semua dialukan. Maka, akan ada indikator kesembuhan yang ditunjukkan dengan produktivitas tinggi/superman. Ekosustem dikatakan pulih jika ekosistem stabil sesuai ekosistem referensi/ mendekati ekosistem asli,” jelasnya.

Dalam rangka pemuluhan ekosistem, lanjutnya, sangat diperlukan kemitraan. Sebab, kata dia, pengelolaan kawasan konservasi dimulai dari bukan kertas kosong. Berbagai macam persoalan ada, diantaranya tekanan dan konflik kawasan.

“Mengapa perlu kemitraan. Ya, karena disana kita dihadapkan dengan tekanan dan konflik, lantaran tingginya interaksi dan ketergantungan masyarakat dengan kawasan konservasi. Karenanya, perlunya partisipasi masyarakat,” paparnya.

Kemitraan konservasi pemulihan ekosistem, jelas Siti, dilakukan pada zona rehabilitasi taman nasional (TN) atau blok rehabilitasi suaka marga (SM), taman hutan rakyat (Tahura), atau taman wisata alam (TWA) atau areal yang telah mengalami kerusakan dan bukan pada areal jelajah satwa dilindungi atau habitat satwa dilindungi.

“Dalam hal areal yang mengalami kerusakan, sebagai dasar untuk melakukan revisi zonasi dan blok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Untuk tipe ekosistem yang ada di TNBBS saat ini, lanjut Siti, jenis flora teridentifikasi 514 jenis pohon dan tumbuhan bawah, 128 jenis anggrek, 26 jenis rotan, 25 jenis bambu, 137 jenis tumbuhan obat, dan bunga langka, diantaranya Rafflesia Arnoldii, Bunga Bangkai, Rhizantes SP.

“Habitat fauna langka dan endemik Sumatera, beberapa diantaranya terancam punah menurut Red Data Book IUCN. Fauna teridentifikasi : 122 jenis mamalia termasuk 8 jenis primata, 450 jenis burung termasuk 9 jenis rangkong, 123 jenis herpetofauna, 53 jenis ikan”.

documen TNBBS

Ditempat yang sama, Kepala Bappeda Lampung Barat, Ir Okmal M.Si mengatakan, di wilayah kerjanya saat ini tidak dinafikkan jika ada 21 ribu hektar perkebukan kopi yang masuk lahan hutan kemasyarakatan (HKm). Akan tetapi, kata dia, itu masuk dalam kategori hutan lindung bukan lahan konservasi.

“Kopi merupakan mata pencaharian utama masyarakat Lampung Barat dan penyumbang terbesar produksi kopi Lampung, akan tetapi memiliki market share yang rendah menjadi ancaman terhadap kesejahteraan masyarakat dan lingkungan,” kata Okmal.

Berkaitan dengan isu perkebunan kopi dan konservasi, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah mengeluarkan kebijakan penatagunaan kopi yang tertuang dalam Peraturan Derah (Perda) nomor 1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten 2010-2030.

“Pada pasal 3, Perda tersebut sudah mengatur penguatan dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang meliputi TNBBS, hutan lindung, kawasan lindung, dan cagar alam laut,” jelasnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *